Posted in Bahan Tambahan Pangan, Keamanan Pangan, Regulasi

Pemanis dan Pengental

Pemanis

o-NATURAL-SWEETENER-facebook

Anda pasti tahu bahwa sekarang semua produk yang memiliki rasa manis di pasaran tidak semuanya pure manis dari bahan yang digunakan, misalnya saja buah-buahan. Penggunaan pemanis ini sah-sah saja asal tidak melebihi batas yang telah ditentukan. Penggunaan pemanis diatur dalam PerKBPOM nomor 4 tahun 2014 mengenai Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis dan tertulis juga pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 33 tahun 2012 mengenai Bahan Tambahan Pangan (BTP).

Pada Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 pada p74-76 mengenai Pangan juga diatur mengenai penggunaan BTP, yang diperuntukkan untuk mempengaruhi sifat maupun bentuk pangan. Pada p75 dijelaskan siapapun yang ingin melakukan produksi pangan dilarang menggunakan BTP yang berlebihan dan BTP yang dilarang untuk ada  dalam pangan. Pada p76 dijelaskan sanksi administratif yang dapat dikenakan kepada setiap orang yang melanggar peraturan yaitu dapat berupa denda, penghentian sementara dari kegiatan, produksi, atau peredaran, penarikan pangan, ganti rugi, bahkan sampai pencabutan izin.

Pemanis merupakan BTP yang ditambahkan utnuk memberikan rasa manis pada produk pangan. Menurut PerKBPOM maka pemanis dibagi menjadi 2, yaitu pemanis alami (natural sweetener) dan pemanis buatan (artificial sweetener). Pemanis alami merupakan pemanis yang ditemukan pada bahan alam meskipun prosesnya berlangsung secara sintetik ataupun fermentasi. Pemanis buatan merupakan pemanis yang memang disintesis secara kimiawi dan senyawanya tidak terdapat pada bahan alam.

Pemanis yang dianggap sebagai pemanis alami adalah sorbitol, manitol, isomalt, glikosida steviol, maltitol, laktitol, silitol, dan eritritol.

Pemanis yang dianggap sebagai pemanis buatan adalah asesulfam-K, aspartam, siklamat, sakarin, sukralosa, dan neotam.

Pemanis buatan yang sudah dilarang penggunaannya adalah Dulcin/sukrol karena dapat menyebabkan tumor hati dan mengakibatkan terganggunya produksi sel darah merah dan 2-amino-4-nitro-1-phenol propoksibenzena (P-4000) yang dapat merusak ginjal dan mengganggu fungsi tiroid.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 33 tahun 2012 juga menuliskan bahwa penggunaan BTP pemanis buatan harus dicantumkan dalam label pangan. Terdapat beberapa ketentuan lain bagi produk yang mengandung pemanis buatan yang harus dicantumkan dalam label pangan, seperti:

  1. Jika produk mengandung pemanis buatan maka wajib dicantumkan tulisan ”Mengandung pemanis buatan, disarankan tidak dikonsumsi oleh anak di bawah 5 (lima) tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui”
  2. Pada label pangan untuk penderita diabetes atau makanan kalori rendah yang menggunakan pemanis buatan wajib mencantumkan “Untuk penderita diabetes dan/atau orang yang membutuhkan makanan berkalori rendah”
  3. Pada label pangan olahan yang mengandung aspartam, wajib dicantumkan peringatan –> “Mengandung fenilalanin, tidak cocok untuk penderita fenilketonurik”
  4. Pada label pangan yang mengandung pemanis poliol, wajib ada peringatan –> “Konsumsi berlebihan mempunyai efek laksatif”.
  5. Pada label pangan olahan yang mengandung gula dan pemanis buatan wajib mencantumkan tulisan ”Mengandung gula dan pemanis buatan”

Dikecualikan untuk Table top Sweetener yang kemasannya terlalu kecil sehingga tidak mungkin dicantumkan seluruh keterangan tetap, tapi wajib memuat nama jenis, nama dan alamat pihak yang memproduksi, ADI dan kesetaraan kemanisan terhadap gula

Setiap produk pangan yang mengandung pemanis buatan pasti ada nilai Acceptable Daily Intake (ADI). Berikut merupakan contoh pada beberapa pemanis buatan dengan ADI pada produk yang beragam.

1307494756581

Gambar 1. Contoh Table Top Sweetener

asesulfamGambar 2. Contoh Pemanis Buatan Asesulfam-K dengan ADI pada Beberapa Produk

isomaltGambar 3. Contoh Penggunaan Pemanis Alami Isomalt pada Beberapa Produk

Pada pemanis steviol maka ada perhitungan Ekuivalensi Steviol:

Jenis Glikosida Steviol Faktor Konversi Glikosida Steviol
Dulkosida A 0,40
Rebaudiosida A 0,33
Rebaudiosida B 0,40
Rebaudiosida C 0,44
Rebaudiosida D 0,28
Rebaudiosida F 0,34
Rubusosida 0,50
Steviol 1,00
Steviolbiosida 0,50
Steviosida 0,40

[SE] = ∑ ([SG) x CF)

[SE]= Kadar Ekuivalen Steviol; [SG]=Kadar jenis glikosida steviol; CF= Faktor konversi glikosida steviol

 

Continue reading “Pemanis dan Pengental”

Advertisements
Posted in Keamanan Pangan, Peraturan Pangan dan Perlindungan Konsumen

Pewarna, Penstabil, dan Pengemulsi

1443106-permen-780x390

Anda tahu bahwa sebagian besar dari produk makanan dan minuman yang kita konsumsi mengandung pewarna. Pewarna yang digunakan tentunya bermacam-macam karena warna yang dibutuhkan setiap produk pangan juga berbeda-beda. Penggunaan pewarna di Indonesia diatur oleh BPOM dalam PerKBPOM Nomor 37 tahun 2013 mengenai Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pewarna. Pewarna didefinisikan sebagai Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang dapat berupa pewarna alami maupun sintetis yang ketika diaplikasikan pada pangan dapat memberikan maupun memperbaiki warna.

Pewarna alami merupakan pewarna yang dibuat melalui proses ekstraksi, isolasi, atau derivatisasi dari tumbuhan, hewan, mineral, atau sumber alam lain, termasuk perisa identik alami. Berdasarkan PerKBPOM di atas, maka pewarna yang dikategorikan sebagai pewarna alami dapat dilihat pada Gambar 1. Pewarna alami umumnya memiliki batas maksimum dalam bahan pangan sebesar CPPB (Cara Produk Pangan yang Baik) atau secukupnya.

cak3

Gambar 1. Pewarna yang dikategorikan sebagai pewarna alami

Pewarna sintetis atau artifisial merupakan pewarna yang diperoleh dari hasil sintesis secara kimiawi. Pewarna yang dikategorikan sebagai pewarna sintetis dapat dilihat pada Gambar 2. Pewarna sintetis lebih sering digunakan dalam produk pangan, karena bersifat lebih tahan lama, dapat digunakan dalam produksi secara masal, dan harga produksinya jauh lebih murah. Keberadaanya dalam bahan pangan diatur batas maksimumnya tergantung jenis pewarnanya masing-masing. Warna yang dihasilkan juga berbeda, ada yang bertanggung jawab memberikan warna merah, kuning, biru, ungu, hijau, dan lain-lain.

cak4Gambar 2. Pewarna yang dikategorikan sebagai pewarna sintetis

Sebagai contoh pengaturan batas maksimumnya, maka dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4.

bumGambar 3. Contoh pengaturan batas maksimum penggunaan pewarna Brilliant Blue pada pangan

bum 2Gambar 4. Contoh penggunaan pewarna hijau FCF pada produk pangan

Pada p6 dijelaskan bahwa penggunan BTP pewarna dapat dilakukan secara tunggal atau campuran. Jika ditambahkan secara campuran, maka perhitungan hasil bagi masing-masing BTP dengan batas maksimumnya jika dijumlahkan tidak boleh melebihi 1. Hal ini terkecuali jika pewarna tersebut memiliki batas maksimum CPPB. Perhitungan tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.

wkwwkwkGambar 5. Contoh perhitungan BTP pewarna campuran

Pewarna yang dilarang oleh BPOM adalah Auramin, Rhodamin B, Ponceau 3R, dan Metanil Yellow. Keempat pewarna ini dilarang berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 239/Men.Kes/Per/V/85. Selain itu, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia Nomor 0038/C/SK/II/90 menyatakan bahwa pewarna Jingga KI, merah K3, merah K4, merah K10, dan merah K11.

Continue reading “Pewarna, Penstabil, dan Pengemulsi”

Posted in Bahan Tambahan Pangan, Keamanan Pangan, Peraturan Pangan dan Perlindungan Konsumen

MSG dan Perisa

yo

Makanan di dunia ini sudah sangat banyak dan rasa yang ditimbulkan dari setiap makanan beragam. Masyarakat Indonesia cenderung menyukai rasa makanan yang gurih. Rasa gurih tersebut biasanya didapatkan dari bahan tambahan pangan (BTP) Monosodium Glutamat (MSG). Hal ini diatur dalam PerKBPOM Nomor 23 tahun 2013 mengenai Batas Maksimum Penggunaan BTP penguat rasa. BTP ditambahkan dalam rangka memperkuat atau modifikasi terhadap rasa dan/atau aroma yang telah ada dalam bahan pangan. Jenis BTP penguat rasa yang diperbolehkan adalah Asam L-glutamat dan garamnya, Asam guanilat dan garamnya, Asam inosinat dan garamnya, dan garam-garam dari 5′-ribonukleotida.

7368dc96b4c56782210b202c7b4924a5

Gambar 1. Bentuk MSG yang dikenali oleh masyarakat

Monosodium glutamat seperti pada Gambar 1 dikenal sebagai MSG, yang tidak ditentukan Acceptable Daily Intake (ADI) nya. Batas maksimum yang tercantum adalah CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik). Berdasarkan PerKBPOM No. 23 tahun 2013 pada p5 menyatakan penggunaan penguat rasa ditentukan batasnya yaitu CPPB dan memiliki sertifikat analisis kualitatif. Pada p9 menyatakan adanya larang, yaitu menyembunyikan penggunaan yang tidak memenuhi syarat, menyembunyikan cara kerja yang bertentangan dengan cara produksi yang baik, dan menyembunyikan kerusakan pangan. Sanksi diatur pada p10 yaitu berupa peringatan tertulis, larangan edar sementara waktu, pemusnahan, dan pencabutan izin edar.

Continue reading “MSG dan Perisa”